Suatu Karya dari Etik Adriani yg saya ambil di Kompasiana pada saat itu, saat saya masih kelas XI dan sedang ditugaskan untuk mempraktikan suatu drama untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia yang pada saat itu diampu oleh Ibu Endah nurul Hidayati, S.Pd.
Sebuah Cerita Pendek (Drama) yang ceritanya sangat bagus, serta bahasanya yang mudah dipahami ini sangat membuat saya tertarik, apalagi penulis mengangkat tema tentang "anak gunung" membuat saya lebih tertarik untuk membacanya serta memahami dsetiap bacaannya.
Silahkan disimak..
Ujung Rinjani
Etik Andriani
***1
Pras berjalan dengan langkah setengah berlari. Sesekali
kakinya melompati genangan air. Gerimis yang turun sejak siang tadi benar-benar
membuatnya bad mood. Langit diselimuti mendung, gelap
gulita. Maghrib belum lagi tiba, tapi suasana layaknya malam saja. Sepi dan
mencekam.
Ia percepat langkah. Gapura gang menuju rumah kontrakan
tempatnya tinggal sudah tampak. Pras ingin segera sampai dan merebahkan
tubuhnya. Penat sekali hari ini, karena pekerjaan di kantor benar-benar
membuatnya kelelahan. Tidak hanya otaknya, fisiknya juga terasa lunglai.
“ Sudah pulang, Mas Demang?” tanya Ani, tetangga sebelahnya.
Oleh warga setempat, Pras memang sering dipanggil ‘Mas
Demang’. Pertimbangannya sederhana. Pras adalah orang Jawa dan namanya
kebetulan njawabanget, Prasetyo Hadiningrat.
“Iya nih, pulang awal. Badan lagi nggak enak,”
kata Pras.
“Kayaknya ada yang nunggu tuh di rumah, cewek.
Siapa, Mas Demang? Awas dimintai tanggung jawab loh,“ Ani berkelakar.
“Hah, cewek? Ah kamu bisa aja.”
“Ha ha ha …,” tawa Ani lepas sambil terus berlalu. Renyah
banget tawanya, kayak krupuk baru digoreng.
“Ada cewek? Siapa ya? Ah, Ani payah. Becanda gak mutu,”
Pras ngedumel sambil terus melangkah menyusuri lorong gang menuju rumah
kontrakannya.
Akhirnya sampai juga. Tangan Pras langsung menggamit
pintu dan membukanya setelah sebelumnya memutar anak kunci. Betapa
terkejutnya, ia
melihat bener-bener ada cewek di rumah. Ia bertanya dalam hati, bagaimana cewek
ini bisa masuk rumahnya? Padahal,
waktu berangkat kerja, ia sudah mengunci pintu dan kuncinya ia bawa. Waktu
pulang, ia juga membuka pintu itu setelah sebelumnya membuka dengan kunci yang
ia bawa.
“Mas … ,” sapa cewek tadi menoleh begitu mendegar suara
pintu dibuka.
Pras makin kaget ketika tahu siapa cewek itu. Cewek
dengan baju putih dan celana jeans biru ada di depannya. Bibirnya
mengembang, tersenyum manis sekali.
“Hah, bener ini kamu, Sasti?” kata Pras, spontan.
“Iya, ini aku Sasti. Prasasti, Mas. Kok bengong?
“Kapan kamu datang, Nduk? Dan kenapa gak ngabarin
dulu? Kapan turun dari Rinjani? Atau gak jadi berangkat?” Pras langsung
memberondong Sasti dengan sejumlah pertanyaan.
“Mas, satu-satu dong nanyanya. Kalo rombongan gitu Sasti
bingung. Ini mana yang mo dijawab duluan?” Sasti balik bertanya.
“Eh, iya, lupa. Abisnya lha kowe kuwi ngageti wae…
,“ timpal Pras dengan Jawa medhok-nya.
Begitulah perbincangan ringan terjadi. Mulai kapan
datang, kabarnya bagaimana, berangkat dengan siapa, apa sudah lama menunggu dia
pulang, begitu seterusnya. Tak hanya itu, hal-hal yang berat-berat seperti masalah perkembangan politik dalam dan luar
negeri, lembek nya pemerintahan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) dalam menyikapi problem-problem
kebangsaan, tren ekonomi global, juga
masalah hukum dan sosial juga mereka perbincangkan, termasuk gosip-gosip entertainment.
***2
Maghrib tiba. Sejoli itu masih asyik berbincang. Keduanya
juga saling melempar senyum, saling pandang dan sesekali tertawa cekikian.
Mereka lepaskan kerinduan yg memenuhi hati mereka karena terpisah jarak yang
cukup jauh. Pras tinggal dan kerja di Jakarta, Sementara Sasti di Surabaya. Kerinduan yang mereka
tabung hari demi hari, bulan demi bulan mereka tumpahkan ketika bertemu.
“Mas, Maghrib tuh,” kata Sasti mengingatkan Pras tentang
sebuah panggilan adzan Maghrib agar segera menghamba kepada Sang Pencipta.
“Iya, iya. Yuk sama-sama!“ ajak Pras.
“Mas duluan aja. Aku lagi nggak salat, “ kata Sasti dan
Pras memahami karena kekasihnya lagi datang bulan.
“Oke, tunggu ya. Jangan ke mana-mana. Masih banyak yang
bakal aku tanya padamu, Sasti,”
pesan Pras.
“Ya, baiklah, Mas,“ jawab Sasti.
Sepeninggal Pras ke mushala, Sasti mengamati ruang kontrakan
itu. Kamar yang sederhana tapi cukup memadai untuk seorang karyawan seperti
Pras. Sebuah kamar yang cukup luas dibagi menjadi tiga bagian. Satu ruang untuk
tamu, kemudian kamar tidur bersebelahan dengan ruang untuk mandi. Di ruang tamu
ada meja kursi tamu mungil bernuansa minimalis dan satu set meja kerja yang di
separo permukaannya diletakkan TV 17 inci.
Lumayan juga kontrakan ini, batin Sasti. Lalu dia
bergeser ke kamar. Di ruang ini ada dipan tak terlalu besar dengan seprei warna
cream bermotif bunga-bunga kecil yang hampir tak tampak karena saking kecilnya,
satu bantal dan satu guling. Di ujung dekat bagian kepala terdapat meja kecil
dan ada beberapa buku yang tertata rapi.
“Hemmmm … Mas Pras memang sangat rapi, “ suara hati Sasti
memuji.
Ya begitulah. Pras memang laki-laki yang sangat rapi.
Hidupnya teratur dan segala kegiatannya terjadwal. Sangat bertolak belakang
dengan kekasihnya, Sasti, yang cenderung slebor dan berantakan. Meski
cewek, dia tidak terbiasa berpenampilan feminim. Sebaliknya, ia cenderung tomboy.
Tapi mereka saling mencintai dan Pras sangat memahami kekasihnya itu.
Perlahan Sasti kembali ke ruang tamu dan duduk lagi di
kursi, menunggu Pras kembali dari mushalla.
“Sas …,” panggil Pras pelan, tapi panggilan itu sempat
membuat Sasti kaget.
“Ya Mas,” jawabnya pendek.
“Makan yuk!”
“Maaf, Mas. Aku gak bisa lama. Aku cuma punya waktu
sebentar. Makannya kapan-kapan aja ya? Aku pengen duduk di sini, di sampingmu, boleh?”ujar Sasti.
“Sebentar? Kenapa? Jauh-jauh kamu datang dari Surabaya
dan di sini cuma sebentar? Gak masuk akal banget Sas. Kenapa? Ada apa?“ Pras
makin penasaran.
Sasti Cuma diam. Bibirnya mengatup rapat. Ia diam
memandangi Pras dengan pandangan mata yang tak bisa diterjemahkan oleh pria
itu.
“Sas, ngomonglah, ada apa? Kenapa? Jangan buat aku mati
penasaran, gak biasanya kamu seperti ini. Lagi sakit?” Pras mulai cemas.
“Nggak, Mas. Aku… aku … cuma ….,”
“ Cuma apa? Ayolah, Sas cerita dong. Pasti
ada apa-apa. Kamu
datang mendadak tanpa kabar. Tiba-tiba nongol dan kini diam pula. Gak
mungkin kalo gak ada apa-apa. Katakan apa pun itu,” kata Pras mendesak.
Pras lalu teringat kembali bagimana Sasti bisa masuk
rumahnya, padahal pintunya terkunci.
Pikiran Pras mulai mengembara kemana-mana. Tapi, secepatnya ia menghentikan pikiran yang enggak-enggak tentang Sasti.
***3
“Mas. Apa yang akan kamu lakukan jika aku mati?” tanya
Sasti dengan wajah menunduk dan sedikit pucat.
“Aku gak mau kamu mati,” jawab Pras.
“Aku gak mau kamu mati Sas,“ Pras mengulang jawabannya dengan
nada lebih lembut dan tepat di muka Sasti yang telah dipegang dengan kedua
tangannya.
“Aku gak mau kamu mati,sayang,” ditegaskannya kembali
jawaban itu.
“Tapi semua orang akan mati kan, Mas? Cuma
nunggu waktu, nunggu antrean kapan akan dipanggil.“
“Ya, aku tahu itu. Tapi
kalo toh harus mati, aku mau
kita mati bersamaan,“ kata Pras agak ngelantur.
“Apa bisa begitu Mas? Koyo dewo ae….ojo nggldrah, Mas,“
kata Sasti dengan logat jawanya yang kental.
“Yo ben,“ kata Pras dengan nada jengkel. Dia
merasa jengkel karena perbincangan itu sama sekali tidak diharapkan.
“Mas. Kalo aku bener-bener mati, Mas jangan pernah
menangis ya, karena
aku gak suka melihat laki-laki
menangis.”
“ Sas…”Pras berusaha memotong.
“Tolong Mas diem dan dengerin aku, sekali
ini aja.”
“Okelah, “ Pras menganggukkan kepalanya.
“Aku ulangi, jangan pernah menangis. Dan jangan terus
larut dalam kesedihan. Kamu harus mencari penggantiku. Harus!”
“Walah, dasar bocah edan,” respon Pras
sambil mengacak-acak rambut Sasti yang pendek. Itu perlakuan yang paling Pras
suka jika lagi deket Sasti sebagai ungkapan rasa kasihnya yang dalam.
“Bener ya, cari penggantiku. Tapi satu hal yang mesti Mas
Pras ingat, aku mencintaimu, sangat mencintaimu sampai batas yang aku sendiri
gak tau Mas…,”
“Oke… oke. Aku tau banget itu, Sas. Kalo
gak cinta masak kangen dan jauh-jauh nyamperin Masmu ini. Ya to… ya to?” Goda
Pras dengan membuat wajah lucu di depan Sasti. Ini kebiasaan Pras yang paling
gak disukai Sasti, karena dengan mimik seperti itu, menurutnya
Pras jadi tampak jelek.
***4
Sasti diam. Beberapa menit tanpa kata. Ia cuma memainkan
harmonika di tangannya, diputar-putar di genggamannya.
“Sas, kok harmonikanya gak dibunyiin, cuma diputer-puter
aja? “ tanya Pras heran, karena tidak biasanya Sasti seperti itu, diam dan
aneh. Karena harmonika itu tak pernah diam setiap ada waktu luang, selalu
bertengger di bibirnya lalu mengeluarkan suara merdu. Tapi
kali ini tidak. Aneh sekali, pikir Pras.
“Mas, seperti yang aku bilang tadi. Aku gak punya waktu
banyak. Aku harus kembali.”
“ Sas. Tunggulah sebentar. Kita makan dulu ya?”
“Nggak bisa Mas. Thank you.”
“Well, biar aku antar.”
“Nggak usahlah, Mas. Aku naik taksi aja.”
“Ya
sudahlah. Aku antar cari taksi,” kata Pras ngalah.
Dia tahu kalau Sasti sudah mengatakan sesuatu, maka itu yang akan dilakukannya
dan sulit untuk dicegah. Karena itu, Pras turuti saja kemauannya asal tidak
membahayakan Sasti. Kemudian beranjaklah mereka keluar dari ruangan di mana
mereka duduk, melangkah bersama menuju gapura gang.
Sasti diam di sepanjang perjalanan di gang itu. Diam tak
mengatakan apa pun. Cuma Pras yang bicara sekadarnya sampai mereka tiba di
ujung gapura di tepi jalan. Ketika menunggu taksi, Sasti akhirnya bicara juga.
“Mas ….”
“Ya?” Pras mereaksi.
“Gak jadi,”kata Sasti seperti menggoda.
“Biasa kowe kui.”
“Itu taksinya Mas,”kata Sasti sambil melambaikan
tangan ke arah taksi dan taksi pun berenti di samping mereka.
“Mas, aku pulang … aku pulang, Mas,” kali ini suara Sasti
terdengar terisak.
Dijabatnya tangan Pras dan menarik tangan itu ke pipinya.
Diciumnya punggung tangan itu dalam-dalam. Pandangan mata Sasti lagi-lagi tak
bisa diterjemahkan oleh Pras.
“Ya, ati-ati, Sas,” kata Pras singat.
Sasti melangkah, membuka pintu taksi lalu masuk ke mobil
warna biru itu. Pintu jendela terbuka dan terdengar suara Sasti.
“Mas, ingat kataku tadi ya?”
Karena Pras tidak mendengar apa yang dikatakan Sasti, dia
mendekat ke mobil itu dan kepalanya ditempelkan ke jendela taksi yang terbuka
sambil berkata, “Setelah sampai, telepon ya? “
“Ya Mas. Aku mencintaimu,” kata Sasti lirih
“I love you, too,” Pras
menimpali dengan cepat.
Dan, kaca jendela taksi pun tertutup. Taksi melaju pelan
kemudian beranjak cepat, membelah padatnya lalu lintas Jakarta. Pras melangkah
kembali menuju kontrakannya dengan langkah gontai. Pikirannya tak karuan dengan
hati penuh kerinduan yang belum terpuaskan.
***5
“Ufffff...” Dihela nafasnya panjang-panjang sambil
merebahkan diri di kursi di ruang tamunya yang bergaya minimalis itu, yang tadi
dipakainya duduk bersama Sasti. Pras merenung dan berpikir, ada apa ini. Kenapa
ini, apa yang terjadi pada Sasti kenapa dia aneh, apa dia sakit? Pras terus
berpikir sampai dia tertidur di kursi, lupa kalau dia belum makan.
Pukul 20.35. Ringtone HP-ya berbunyi. Pras
terbangun dari tidurnya. “Haloo … Assalamu’alaikum …” suara Pras memberikan
salam pembuka.
“Ini benar nomor Dik Pras?” terdengar suara perempuan di
seberang line telepone menyapa. Suaranya terdengar parau dan terisak.
“Ya benar. Ini siapa ya?
“Ini saya Dik, mbak Siska. Dik, besok cepet pulang ya dengan penerbangan pertama yang
mungkin ada,” kata Siska.
“Mbak Siska. Ada apa? Kenapa mbak menangis?” tanya Pras
dengan heran dan bingung menerima telepon kakak perempuan Sasti itu.
“Dik Pras... Sasti … Sasti ….”
“ Sasti kenapa Mbak? Dia baik baik saja kan?”
“ Sasti….. kecelakaan dan dia pergi dari kita….,” tangis
di seberang makin
keras.
Pras masih belum ngeh dengan situasi
ini. Kemudian Siska pun menjelaskan apa yang menimpa Sasti lebih rinci.
“Pras, pulanglah secepatnya. Sasti terperosok ke jurang
dalam pendakiannya ke Rinjani. Tim SAR menemukan tubuhnya tersangkut di pohon
dalam jurang. Malam ini mungkin jasadnya sampai di Juanda sekitar pukul 23.45.
Cepat pulang Pras.”
Dan, Pras sudah tak bisa mendengar lagi kalimat apa yang
diucapkan Siska lewat telepon itu. HP-nya terjatuh dan dia terduduk lemas di
kursi yang tadi sore didudukinya bersama Sasti.
“Sasti.......... Gak
mungkin, gak mungkin. Dia baru dari sini duduk denganku, ngobrol denganku,
mencium punggung tanganku. Gak mungkin, gak mungkin... Sasti......” Gumamnya
dalam hati.
***6
Lama
Pras bengong menerima kenyataan pahit itu. Dan akhirnya dia sadar, bahwa Sasti yang datang kerumahnya tadi, Sasti yang sudah duduk di kursi tamunya meski pintu belum dibuka, Sasti yang mencium punggung telapak tangannya, adalah Sasti yang telah berada di dunia lain. Dunia yang menjadi fase transisi menuju kehidupan abadi di akhirat.Sasti benar-benar pamit meski raganya berada di kedalaman jurang Rinjani.
Malam pun makin gelap. Mendung tebal menyelimuti langit
Jakarta. Sunyi. Hati Pras benar-benar hampa sekarang. Ia akan lalui
hari-harinya tanpa lagi ada Sasti di sisinya, didekatnya, selamanya....
*******
Sekian dan Trimakasih.
Lugas Deniarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar